Analisa Forex (1): Kurs Yuan China: USD 2:1 pada 2015
Latar Belakang
Ekonomi China yang telah berkembang pesat selama hampir 30 tahun, terutama sejak
1998 (hal. 36, Financial Times, 25 Jan. 2008), telah menjadikan China negeri
dengan GDP ketiga terbesar di dunia saat ini, seperti GDP Jerman, sekitar USD
USD 3,08 triliun pada 2007 (wikipedia.org). Cadangan forex China telah mencapai
USD 1.682 triliun per akhir Maret 2008, yang saat ini terbesar di dunia
(wikipedia.org). Dalam sejarah ekonomi, belum pernah satu pun negeri lain
memiliki devisa sebanyak itu. Sukses itu diperoleh terutama melalui besarnya
surplus neraca berjalan China, yaitu USD 184 miliar pada 2006 saja (US-China
Business Council), berkat ekspornya yang sekarang di atas USD 1 triliun per
tahun, besarnya investasi langsung asing, yang mencapai USD 82,66 miliar pada
tahun 2007, sehingga total FDI yang diwujudkan sekitar USD 700 miliar dari
1978-sekarang) dan besarnya uang panas yang masuk dari segala penjuru dunia.
Faktor-Faktor Penopang Kekuatan Ekonomi China:
1. Stabilitas politik dan ekonomi China sejak 1995.
2. Utang luar negeri China yang sangat kecil (sekitar USD 250 miliar)
dibandingkan dengan cadangan devisanya.
3. Infrastruktur ekonomi China sangat lebar dan dalam sehingga mampu mendukung
pertumbuhan GDP di atas 10% per tahun. Pemerintah China bahkan semakin
meningkatkan jumlah maupun cakupan infrastrukturnya ke bagian dalam China
sehingga pertumbuhan tidak hanya terpusat di kota-kota pantai timurnya.
4. Rakyatnya sangat rajin menabung sehingga jumlah tabungan rumah tangga
mencapai 15% dari GDP pada 2006 (sekitar USD 2,68 triliun), walaupun angka itu
turun 21% yang tercatat pada pertengahan 1990-an (hal. 90, The Economist, 13
Oktober 2007). Angka tabungan pribadi mencaai 25% dari pendapatan pribadi yang
dapat dibelanjakan. Itu tinggi sekali dibandingkan dengan rumah tangga AS yang
menabung hanya di bawah 1% dari penghasilan mereka.
5. Yang paling penting: struktur industri manufakturnya lebar dan dalam. Lebar:
hampir segala macam barang dapat mereka buat, dari teknologi rendah, seperti
sepatu, garmen, mainan, sampai teknologi tinggi seperti komputer, pesawat
terbang, kapal laut, satelit, roket. Industri komponennya hampir dapat mencukupi
kebutuhan semua produk. Ekspor industri tersebut meroket: Lima tahun lalu,
mereka mampu mengekspor hanya USD 1,5 miliar komponen mobil ke AS tetapi pada
2007 mengekspor USD 28,5 miliar (Forbes Asia, 7 April 2008), yang berarti naik
36% dari tahun 2006. Juga, nilai tambah produk-produk industrinya semakin
ditingkatkan melalui investasi terus-menerus dalam permesinan, sistem manajemen,
rantai pamasokan, dll. Menurut Fortune edisi 4 Juni 2007, pemerintah China telah
mengesahkan program pendorongan “inovasi China” dengan mendobelkan pengeluaran
di bidang riset dan perkembangan. You Shang, wakil menteri riset dana teknologi,
berkata, “Masa depan China tidak mengandalkan sumber daya alam atau buruh murah
melainkan sangat banyaknya orang yang berbakat dan berpotensi inovatif.”
Karena struktur industri manufakturnya lebar dan dalam, kurs Yuan/USD yang
rendah (sekitar 8,2 per Juni 2005) menjadikan ekspornya terus meningkat luar
biasa, hampir 30% per tahun, kecuali sejak awal tahun ini yang mulai menurun
menjadi sekitar 25%, karena kurs tersebut menguat menjadi kurang dari 7 sekarang
ini. Kalau China mendevaluasi kurs Yuan/USD menjadi 10, ekspornya malahan akan
meningkat sekitar 50%-60% per tahun dan seluruh dunia akan kebanjiran barang
China dengan harga murah meriah!!!
Faktor-faktor yang mengharuskan kurs Yuan vs USD dinaikkan secara bertahap:
1. Faktor Dalam Negeri
Ř Angka inflasi dalam Indeks Harga Barang Konsumsi (CPI) sudah mencapai 8,3%
dalam setahun terakhir. Angka itu adalah yang tertinggi selama 11 tahun terakhir
dan merupakan hasil kombinasi inflasi karena demand pull (tarikan oleh
permintaan) dan cost push (dorongan oleh kenaikan biaya dll.).
Ř Suku bunga telah dinaikkan 16 kali oleh Bank Sentral China (PBoC) sejak
pertengahan 2006 sehingga menjadi sekitar 5,6% per tahun dan mengundang semakin
banyak uang panas masuk ke China untuk menikmatinya.
Ř Investasi asing langsung (FDI) yang diwujudkan selama Januari-Februari 2008
telah melebihi USD 18 miliar. Jadi, ada kemungkinan besar total FDI yang
diwujudkan akan melebihi USD 100 miliar selama tahun 2008. Ditambah dengan
investasi dalam negeri, semakin banyak uang yang mencari barang dan jasa secara
berbarengan sehingga harga barang dan jasa akan naik dan menambah angka inflasi.
Ř Kekhawatiran adanya pertumbuhan ekonomi yang semu dan terlalu panas.
Ř Investasi yang berlebihan dalam banyak bidang usaha, misalnya manufaktur,
property.
2. Faktor Luar Negeri
Ř Kenaikan harga minyak bumi lebih dari USD 60-an per barrel sekitar April 2007
menjadi di atas USD 110-115 saat ini.
Ř Kenaikan harga bijih besi di atas 100% dalam setahun terakhir.
Ř Tekanan dari AS untuk menaikkan kurs Yuan guna mengurangi defisit neraca
dagang AS-China yang sekitar USD 250 miliar pada 2007. Contoh: Pada dengar
pendapat dengan Kongres AS tanggal 28 Maret 2007, Morris Goldstein, seorang
cendekiawan Lembaga Ilmu Ekonomi Internasional (IIE), berpendapat bahwa nilai
mata uang China tersebut saat itu ditetapkan jauh di bawah nilai wajarnya,
sekitar 40% terhadap USD sehingga ia berkata,"China seharusnya segera memberikan
"down payment" berupa kenaikan nilai yuan (atau RMB) antara 10-15% dari tingkat
kursnya yang sekarang ini."
Ř Kurs USD terhadap euro telah turun tajam dari sekitar 1,33 pada April 2007
menjadi sekitar 1,6 sekarang ini.
Untuk membantu menurunkan angka inflasi dan subsidi untuk bahan-bahan impor,
kurs yuan harus dinaikkan terhadap USD. Juga, kenaikan itu membantu percepatan
kemakmuran rakyat China. (Lihat juga: Peluang Ekspor ke China)
Silakan kirim komentar kepada:
indrasonny@tjansietek.com